Waduhhhh pusingggg…Lagi banyak tekanan nih di kantor. Hahhhh…daripada dibawa stress mendingan dibawa happy aja soalnya masalah itu ndak pernah berhenti datang silih berganti dan bertubi-tubi. Mau tau cara biar ndak punya masalah di dunia??? MATI…Ya mati jawabannya, kalau orang mati tidak punya masalah lagi di bumi (apaan sih intermezonya kejauhan nih…).

Oke saya ada cerita yang agak-agak enak vulgar nih, ya mudah-mudahan cerita ini bisa dipetik hikmahnya oleh pembaca-pembaca sekalian (bohong sih, gak bakalan ada hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini koq…) dan yang lebih penting mudah-mudahan bisa menghilangkan stress anda sekalian walaupun mungkin ada yang menganggap cerita in tabu or maybe jayus, ndak opo-opo saya ndak akan tersinggung koq… 😛

Nama Karyawan: Penis
Perihal:
Minta naik gaji
Baca lebih lanjut

Iklan

Somethings that confuse me…

Banyak masalah dalam hidup gw yang merupakan suatu misteri untuk gw. Salah satunya itu soal AGAMA. Gw mo ngomongin soal agama. Sebenarnya sih tidak pantas dibicarakan karena sangat riskan dan rentan dan bisa-bisa malah ada pihak yang merasa tersinggung bila membicarakan soal agama ini. Tapi tenang saja gw ga membahas soal apa itu agama, agama apa yang baik, kenapa harus beragama atau kenapa tidak harus beragama, dan sebagainya, dan sebagainya…

Gw berharap dari posting gw tentang masalah ini bisa dapet masukkan dari teman-teman di blogsphere umumnya dan teman-teman dekat gw khususnya mengenai kebingungan gw ini.

Mari mulai ikut gw, gw akan mulai pembahasannya dari sini:

Banyak sekali definisi Agama dari berbagai bahasa namun bila dalam bahasa asli agama itu berasal dari bahasa sansekerta. Agama itu berarti “tradisi”. Lho koq artinya tradisi yah??? Nah tradisi sendiripun memiliki makna yang berbeda-beda namun yang saya dapat tradisi itu kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyang yang dijalankan oleh masyarakat. Hmmm…kedengarannya aneh juga ya??? *inget-inget iklan salah satu makanan “Sudah Tradisi”..*

Kata Agama sendiri itu sebenarnya tidak cocok dengan apa-apa saja yang ada didalam Agama tersebut maksudnya begini, di Indonesia terdapat 5 agama yang diakui yaitu: Agama Islam, Agama Kristen, Agama Katolik, Agama Budha dan Agama Hindu. Nah coba sekarang kata Agama itu kita dengan kata tradisi menjadi: Tradisi Islam, Tradisi Kristen, Tradisi Katolik, Tradisi Budha dan Tradisi Hindu. Janggal memang kedengarannya namun seharusnya itu memiliki arti yang sama bukan???

Sebenarnya bukan hal ini yang memusingkan gw tapi masih ada lagi yang lebih membingungkan.

Begini gw ceritakan dulu dari kehidupan gw. Gw dilahirkan dari keluarga yang beragama Kristen. Ayah gw beragama Kristen lalu Ibu gw juga beragama Kristen lalu Nenek gw dan kakek gw juga beragama Kristen so secara tidak langsung sedari kecil pun gw beragama Kristen. Nah begitu juga teman-teman gw yang beragama lain selalu seperti itu. Itulah yang membingungkan gw, kenapa??? Sebenarnya agama itu sendiri kalau menurut gw sudah kehilangan makna terdalamnya yaitu suatu kepercayaan kepada Tuhan menjadi makna yang sudah tergeser sesuai dengan arti agama itu sendiri yaitu tradisi nenek moyang.

Adat istiadat dalam suatu suku ataupun keluarga adalah suatu tradisi turun menurun juga. Dalam suatu adat istiadat bila dilanggar ataupun keluar dari adat istiadat yang dianut sejak  dahulu dari nenek moyang maka hukumnya adalah diusir keluar dari suku tersebut dan tidak diakui sebagai anggota suku/keluarga lagi bahkan ada pula yang hukumannya mati. Begitu pula kejadiannya bila orang yang keluar/pindah agama akan mendapat perlakuan yang sama seperti orang yang melanggar ataupun keluar dari suatu adat istiadat suatu suku.

Nah masalah ini yang membuat saya bingung dari dulu, kenapa agama itu menjadi suatu tradisi dalam keluarga yang tidak memperbolehkan anggota keluarganya berpindah agama. Kasarnya agama itu seperti dipaksakan untuk dianut dan diyakini jadinya. Begitulah pendapat gw dan bagaimana pendapat para blogger sekalian???

Istri Cantik vs Istri Jelek

Hidup tuh perlu disyukuri atas apa yang kita punya dan kita miliki baik itu bagus ataupun kurang bagus, tapi terkadang kita sebagai manusia sering khilaf dan lupa akan pentingnya hal ini. Berikut gw ada contoh sifat manusia yang kurang bersyukur atas apa yang kurang bagus dan mensyukuri apa yang bagus saja dalam hidup ini. Ini contohnya seseorang yang memiliki istri cantik dan yang memiliki istri jelek kurang cantik: Baca lebih lanjut

Burung Pak Kepala Desa

Cerita iseng dan lucu-lucuan aja:

Seorang Kepala Desa memiliki hobi memelihara burung.
Pada suatu pagi, burung kesayangannya hilang. Wah, marah sekali dia.

Pak KaDes membawa masalah itu dalam pertemuan mingguan di desanya.

KaDes : ” Siapa di sini yang punya burung ? ”
Segera seluruh laki-laki yang hadir angkat tangan.

Kaget, pak KaDes mengoreksi :
” Bukan, maksud saya adalah siapa yang pernah lihat burung ? ”
Seluruh perempuan yang hadir angkat tangan.

Dengan muka merah padam pak KaDes menyambung,
” Maaf, bukan itu maksud saya. Maksud saya, siapa di antara kalian yang pernah lihat burung yang bukan milik sendiri ? ”
Separuh perempuan yang hadir angkat tangan.

Muka pak KaDes makin merah. Gugup.
” Maaf sekali lagi, bukan ke arah itu pertanyaan saya. Maksud saya, siapa yang pernah lihat burung saya ? ”
Sontak, isteri pak KaDes angkat tangan, disusul lima perempuan lain dengan malu-malu.

Muka bu KaDes merah padam . . . . .
Muka pak KaDes merah legam . . . . .
Semua yang hadir tegang . . . . . .
Pak KaDes melarikan diri . . . . .

Cerita ini hanyalah fiktif belaka dan bila ada pihak yang tersinggung maka saya ucapkan:

KASIHAN DEH LW…. 😛