Somethings that confuse me…

Banyak masalah dalam hidup gw yang merupakan suatu misteri untuk gw. Salah satunya itu soal AGAMA. Gw mo ngomongin soal agama. Sebenarnya sih tidak pantas dibicarakan karena sangat riskan dan rentan dan bisa-bisa malah ada pihak yang merasa tersinggung bila membicarakan soal agama ini. Tapi tenang saja gw ga membahas soal apa itu agama, agama apa yang baik, kenapa harus beragama atau kenapa tidak harus beragama, dan sebagainya, dan sebagainya…

Gw berharap dari posting gw tentang masalah ini bisa dapet masukkan dari teman-teman di blogsphere umumnya dan teman-teman dekat gw khususnya mengenai kebingungan gw ini.

Mari mulai ikut gw, gw akan mulai pembahasannya dari sini:

Banyak sekali definisi Agama dari berbagai bahasa namun bila dalam bahasa asli agama itu berasal dari bahasa sansekerta. Agama itu berarti “tradisi”. Lho koq artinya tradisi yah??? Nah tradisi sendiripun memiliki makna yang berbeda-beda namun yang saya dapat tradisi itu kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyang yang dijalankan oleh masyarakat. Hmmm…kedengarannya aneh juga ya??? *inget-inget iklan salah satu makanan “Sudah Tradisi”..*

Kata Agama sendiri itu sebenarnya tidak cocok dengan apa-apa saja yang ada didalam Agama tersebut maksudnya begini, di Indonesia terdapat 5 agama yang diakui yaitu: Agama Islam, Agama Kristen, Agama Katolik, Agama Budha dan Agama Hindu. Nah coba sekarang kata Agama itu kita dengan kata tradisi menjadi: Tradisi Islam, Tradisi Kristen, Tradisi Katolik, Tradisi Budha dan Tradisi Hindu. Janggal memang kedengarannya namun seharusnya itu memiliki arti yang sama bukan???

Sebenarnya bukan hal ini yang memusingkan gw tapi masih ada lagi yang lebih membingungkan.

Begini gw ceritakan dulu dari kehidupan gw. Gw dilahirkan dari keluarga yang beragama Kristen. Ayah gw beragama Kristen lalu Ibu gw juga beragama Kristen lalu Nenek gw dan kakek gw juga beragama Kristen so secara tidak langsung sedari kecil pun gw beragama Kristen. Nah begitu juga teman-teman gw yang beragama lain selalu seperti itu. Itulah yang membingungkan gw, kenapa??? Sebenarnya agama itu sendiri kalau menurut gw sudah kehilangan makna terdalamnya yaitu suatu kepercayaan kepada Tuhan menjadi makna yang sudah tergeser sesuai dengan arti agama itu sendiri yaitu tradisi nenek moyang.

Adat istiadat dalam suatu suku ataupun keluarga adalah suatu tradisi turun menurun juga. Dalam suatu adat istiadat bila dilanggar ataupun keluar dari adat istiadat yang dianut sejak  dahulu dari nenek moyang maka hukumnya adalah diusir keluar dari suku tersebut dan tidak diakui sebagai anggota suku/keluarga lagi bahkan ada pula yang hukumannya mati. Begitu pula kejadiannya bila orang yang keluar/pindah agama akan mendapat perlakuan yang sama seperti orang yang melanggar ataupun keluar dari suatu adat istiadat suatu suku.

Nah masalah ini yang membuat saya bingung dari dulu, kenapa agama itu menjadi suatu tradisi dalam keluarga yang tidak memperbolehkan anggota keluarganya berpindah agama. Kasarnya agama itu seperti dipaksakan untuk dianut dan diyakini jadinya. Begitulah pendapat gw dan bagaimana pendapat para blogger sekalian???

6 Tanggapan

  1. orang lebih banyak brurusan dgn hal2 negatif, dgn apa yg salah. mengapa org tdk brusaha melihat hal2 positif hanya dgn cara mnyentuhnya lalu membuatnya jd indah?

  2. Masalah agama memang sensitif, bagian dari SARA. Namun, dalam pengembangan diri memang perlu pencerahan. agar semakin sempurna di atas Roda kehidupan. Keyakinan semua umat beragama, tentu beragam. Namun, keanekaragaman dalam keyakinan merupakan suatu kekuatan dahsyat selama saling menghormati & menghargai baik sesama maupun antar umat. Kalau mirip tradisi, Tradisi mana yang anda ambil?Tradisi Awal, Tengah, atau yang baru? atau Anda akan menciptakan tradisi baru itu?
    Jika terkesan dipaksa, semua orang tua mengajarkan kita menjadi manusia Beradap dan Beragama, setelah besar kelak, dengan modal pengetahuan yang ada, kamu bisa saja menentukan pilihan. Contoh: Mrs. THE. 😉
    Jalanilah, apa yang kamu yakini.
    Agamaku ya Agamaku, Agamamu ya Agamamu.
    (Diriwayatkan oleh at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
    dikemukakan bahwa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi saw. dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah, dan akan dikawinkan dengan yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: “Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki Tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah Tuhan-Tuhan kami selama setahun.” Nabi saw menjawab: “Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku.” Ayat ini (S.109:1-6) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala.

    Berikut ini terjemahan ayat-ayat Quran surat 109:
    1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
    2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
    3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
    4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
    5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
    6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

  3. gag usah pusing daniel..

    agama itu fitrah
    hak kita sebagai manusia untuk memilih agama mana yang baik
    orangtua tentunya ingin yang paling baik untuk anak2nya
    sebagaimana keyakinan yang dianut olehnya, ia pun tentu ingin anaknya menganut agama yang baik pula.

    *gitu gag ya??!!*

    :: Aji ::

  4. itulah kenapa manusia diberikan otak, tidak lain tidak bukan untuk berpikir… sebagai manusia yang “dewasa” kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.. baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain..

    kalo emang kamu mo mencari kebenaran ya silahkan saja melakukan penelitian.. apakah agama yang dianut itu emang benar dari hati kita atau cuma keturunan saja.

  5. yah berarti kita cuma menerima “warisan” saja kan… tanpa tahu apa itu salah atau benar.
    jadi saatnya unttuk terus mencari dimana Tuhan “bersembunyi”.

  6. Duh pusing kalo bicara soal agama😦
    Kalo gw sih ambil simple aja aja bro. Gw yakin kebenaran itu subjektif tergantung siapa yang memandang kebenaran itu. Agama / Tradisi / lebih tepatnya keyakinan juga subjektif tergantung loe lihat dan loe rasakan.

    Salah satu cara yang gw jalanin untuk sampai ke-kebenaran itu adalah dengan belajar bro. Gw musti pelajarin keyakinan setiap orang yang berbeda pandangan akan keyakinan dengan gw. Setelah itu, baru gw ambil kesimpulan mana yang terbaik buat TUHAN gw. Ingat loh … memiliki agama itu adalah cara untuk “menyenangkan” Tuhan, bukan menyenangkan diri kita. So, kalo menurut loe agama yg loe dah pegang sekarang udh bikin Tuhan seneng … yah pegang aja kan :d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: