Perlombaan Kura-kura vs Kelinci

Tentu dari dulu kita sering mendengar cerita ini. Begitu juga saya, sudah hampir bosan dengan cerita yang menjadi dongeng pengantar tidur anak kecil ini. Tapi pernahkah kita sadari makna yang terkandung didalamnya?

Nah sekarang saya mau mencoba mereview kembali cerita ini serta membahas makna-makna yang ada didalamnya. Begini ceritanya:

Di suatu masa di suatu dimensi, kura-kura berdebat dengan kelinci mengenai siapa yang lebih cepat diantara mereka.

Baca lebih lanjut

Iklan

Problema Cinta (Part I)

Adalah sesosok pria bernama Daan yang memiliki cinta dan kasih yang terlampau besar dalam dirinya, bahkan melebihi kapasitas dirinya sendiri. Kehidupannya tak pernah terlepas sekalipun dari sosok wanita cantik nan mempesona. Sebut saja Marry, Livya, Eve dan Cahaya adalah gadis-gadis yang sangatlah beruntung yang pernah dimiliki sang pria ini.

Namun apalah daya, lain manusia berlainan pula akhlak, sifat dan budinya. Satu persatu gadis-gadisnya pun pergi meninggalkan dewa fortuna mereka…Daan merasa sedih dan dahulu bukanlah sifatnya untuk terus-terusan meratapi kesedihan dan patah hati berkepanjangan. Dengan mudahnya Daan berpindah ke lain hati untuk menghapus kepedihan dari cintanya sebelumnya namun sulit baginya untuk melepaskan bayangan kekasihnya yang terdahulu.

Dari Marry ia mendapatkan luka yang cukup dalam, Bagaimana tidak coba saja bayangkan, bagi Daan mendapatkan gadis yang sempurna adalah impiannya namun kenyataan berkata lain, Marry ternyata pernah diperkosa oleh teman Daan sendiri. Wooowww…Sangat syok Daan mendengar pengakuan yang mengiris hati itu dari Marry pacar pertamanya. Kesetiaan dan kasih yang begitu besarnya dalam diri Daan membuatnya mematahkan ego dan prinsipnya sendiri lalu menerima kekurangan Marry. Sebagai balasannya Marry selingkuh dengan seorang pria. Hancur,!! Terkoyak-koyaklah hati Daan.

Setahun kemudian Daan berjumpa dengan Livya, gadis yang terpaut 6 tahun lebih muda darinya. Keunikan, kecantikan, kecerdasan dan keluwesan Livya membuat hati Daan jatuh kembali. Sesosok gadis yang masih sangat muda bahkan bisa dikatakan masih kecil itu bisa meluluhkan hati Daan. Livya bukanlah pacar pertama bagi Daan melainkan cinta pertamanya, saat itu Livya masih mengenakan seragam Putih-Biru kelas 2 sedangkan Daan sedang berada kuliah semester 3 di suatu universitas di Jakarta. Bahagia adalah kata yang selalu mengiringi mereka saat mereka bersama. Keluarga Livya sungguh berantakan hingga sampai saat itu Livya memiliki 3 orang adik dan mereka semua berbeda ayah, bahkan Mamanya pun belum pernah menikah sama sekali. HOW CAN BE!!! Lagi-lagi Daan bisa menerma kekurangan kekasihnya itu. Nasib, ya memang nasib yang tidak baik, lagi lagi Livya pun meninggalkan Daan semenjak Livya itu mulai memasuki dunia modelling. Si gadis lebih memilih pria yang lebih tampan yang ada dalam agency Om nya itu. Daan tidaklah menyalahkan Livya melainkan ia mencoba mengerti dengan melihat usia Livya yang masihlah sangat muda dan labil. Pupuslah kembali harapannya untuk menemukan kebahagiaan sejati…dan bertambahlah luka di dalam qalbu Daan.

Selang 3 bulan kemudan bayang-bayang Livya masih belum bisa dihapuskan sepenuhnya dari pikiran dan hatinya. Berjumpalah Daan dengan Eve, dalam waktu 3 hari setelah perjumpaan pertama mereka, Daan dan Eve berpacaran. Pelarian Livya adalah status Eve pada saat itu bagi Daan. Seperti kata seorang penyair terkenal kalau pacar pertama, kedua, ketiga dan seterusnya masih bisa dilupakan namun cinta pertama tidaklah akan bisa dilupakan sampai maut menjemput. 2 tahun setengah mereka jalani, tanpa terasa ternyata nelangsa hati Daan sekarang telah berubah, ya sekarang Eve bukanlah lagi sebagai ‘pelarian’ namun sebagai kekasih hatinya. Setelah Eve lulus SMEA ia tidak meneruskan sekolahnya tetapi mulailah ia mencari kerja. Semenjak Eve bekerja dan bertepatan juga dengan Daan yang sedang mengerjakan skripsi, frekuensi mereka bertemupun tidak ada lagi. Berbagai cara ditempuh Daan untuk tetap berkomunikasi dengan Eve tapi semuanya sia-sia tak kunjung berhasil.

Setelah 7 bulan Daan tidak pernah bisa bertemu ataupun berkomunikasi dengan Eve , munculah sesosok Cahaya diantara teman-teman kampusnya Daan waktu itu. Gadis dengan perawakan dan paras yang mungil itu telah menoreskan bayangan dirinya kedalam hati Daan. Kehidupan cinta Daan pun bersemi kembali.

BERSAMBUNG…

Hati Seluas Danau…

Melihat muridnya terlihat murung , seorang Guru mendatanginya lalu berkata, “Kenapa kau selalu murung Nak? Apakah dari sekian banyak hal yang indah di dunia ini tak satupun ada yang bisa membuatmu bahagia lalu mensyukurinya?”

“Guru,” jawab si murid dengan wajah gelisah, “belakangan ini begitu banyak masalah yang harus saya hadapi, nereka datang seperti tak ada habis-habisnya. Karena itu sangat sulit bagi saya untuk tersenyum.”

Tanpa diduga Sang Guru justru tertawa, “Ambilah segelas air dan dua genggam garam. Lalu bawalah kesini. Dengan air dan garam itu akan kuperbaiki suasana hatimu,” katanya.

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Tak lama kemudian dia kembali lagi membawa gelas dan garam. “Masukkan segenggam garam lalu masukkan ke segelas air itu” kata Sang Guru.

Si murid pun melaksanakannya. Ia memasukkan segenggam garam ke dalam gelas itu lalu mengaduknya. “Sekarang minumlah,” perintah Sang Guru.

Dengan heran, si murid pun menengguk air bercampur garam itu. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin,” jawab si murid sambil memegang perutnya yang terasa mual.

Sekali lagi, Guru justru tertawa melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang kau ikut aku.”

Mereka lalu berjalan menuju danau yang terletak tidak jauh dari pondok. Di tepi danau tersebut ia meminta muridnya menebarkan segenggam garam yang tersisa. Tanpa bicara dan wajah yang bingung si murid pun menebarkan garam yang tersisa tersebut ke danau.

“Sekarang, coba kamu minum air danau itu,” kata Guru sambil menunjuk ke danau. Dengan kedua tangannya, si murid lalu mengambil air dari danau kemudian meminumnya. Dalam sekejap air danau yang dingin dan segar mengalir melalui tenggorokannya.

“Bagaimana rasanya?” “Segar, segar sekali,”kata si murid sambil menyeka bibirnya. “Apakah terasa asin? Sebab kamu baru saja menebarkan garam ke danau itu.” “Tidak Guru, tidak sama sekali,” jawab si murid sambil mengambil air dari danau dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum mendengarnya. “Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kamu alami sepanjang kehidupanmu itu sudah ada dikadar oleh TSang Pencipta, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir kedunia ini pun demikian. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid terdiam mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialaminya itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’ (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi seluas danau.”