• Yang ngelirik:

    tracker
  • Personality Test

    Click to view my Personality Profile page
  • Komunitas Bloger Jogja

  • Komunitas Bloger Bunderan HI

    http://b-h-i.blogspot.com
  • Mood hari ini…

    My Unkymood Punkymood (Unkymoods)
  • Laman

  • Meta

Berubah atau Mati…

Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah buku yang dulu pernah saya baca. Di buku itu ada sebuah ilustrasi yang menarik untuk saya tuliskan di blog ini. Semoga ilustrasi ini bisa menjadi motivasi bagi pembaca sekalian

Ilustrasi tersebut mengenai seekor burung, burung Rajawali. Anda tentu tahu burung Rajawali bukan? Burung Rajawali adalah burung yang sangat perkasa, karena kemampuan terbang Rajawali melebihi burung manapun di dunia ini. Rajawali dapat hidup hingga usia 70 tahun, suatu usia yang sulit dicapai oleh makhluk hidup bahkan manusia sekalipun di masa sekarang.

Tapi tahukah anda, bahwa saat usia ke-40 tahun adalah masa yang sukar bagi seekor Rajawali? Mengapa? Karena pada usia tersebut, Rajawali mengalami masa transisi fisik yang menentukan kelangsungan hidupnya. Berikut perubahan-perubahan yang terjadi pada seekor Rajawali saat usianya mencapai 40 tahun:

  1. Paruh burung Rajawali sudah menjadi sangat panjang dan  melengkung dan saking sangat panjangnya hingga hampir menembus lehernya sendiri.

  2. Cakar Rajawali juga menjadi sangat panjang dan tidak tajam lagi sehingga menyulitkan Rajawali untuk mencengkeram mangsa yang menjadi makanannya.

  3. Bulu-bulu yang menempel di seluruh tubuhnya semakin menebal sehingga membuat Rajawali kesulitan untuk terbang karena bulu-bulu tersebut menjadi sangat berat.

Jika Rajawali tetap bertahan dengan kondisinya tersebut maka sudah dapat dipastikan usianya tidak akan jauh dari 40 tahun saja.

Untuk tetap dapat bertahan hidup hingga usia 70 tahun, seekor Rajawali harus melakukan perubahan. Bukan perubahan yang biasa-biasa saja melainkan suatu perubahan yang sangat menyakitkan!

Pada usia ke-40 tahun Rajawali terbang ke tempat yang sangat tinggi untuk mencari tebing bebatuan. Mencari tempat seperti itu sangatlah menyulitkan bagi Rajawali saat usianya tersebut karena bulu-bulunya itu yang sangat lebat dan menjadi berat. Setelah Rajawali menemukan tempat seperti itu kemudian Rajawali menghantam-hantamkan berulang-ulang kali paruhnya tersebut ke bebatuan yang keras disana. Sekali menghantam bebatuan sekali pula ia mengeluarkan rintihan panjang yang menandakan kesakitannya yang bukan main rasanya. Ia melakukannya hingga paruhnya tersebut patah dan terlepas dari mulutnya.

Butuh waktu 3 s/d 4 bulan agar paruh barunya tumbuh kembali. Setelah paruh barunya tumbuh, ia mulai mematuk-matuki cakarnya hingga habis. Butuh waktu 3 s/d 4 bulan lagi untuk membiarkan cakarnya tumbuh kembali. Setelah cakarnya tumbuh, Rajawali mencabuti bulu-bulu yang menghinggapi seluruh tubuhnya itu hingga habis. Untuk memiliki bagian tubuh yang sempurna kembali  Rajawali membutuhkan waktu 1 tahun.

Hal-hal diatas itulah yang dilakukan seekor Rajawali agar bisa bertahan hidup hingga usia 70 tahun. Sama seperti kita, manusia. Seringkali kita dihadapkan dengan suatu situasi dan kondisi yang menuntut kita untuk berubah dari kebiasaan-kebiasaan kita, pola pikir kita, komunikasi kita, dan lain sebagainya.

Suatu perubahan memang sangatlah menyakitkan dan sulit dilakukan namun bila kita dapat berubah maka kita bisa menjadi manusia yang lebih baik bahkan mendekati kesempurnaan. Jadi siapkah anda untuk berubah di saat anda harus berubah???

BELAJAR DARI KEPITING

Pasti banyak diantara kita yang tahu kepiting bukan? Anda suka kepiting? Atau anda tidak suka kepiting? Atau suka kepiting tetapi tidak mau makan kepiting? Cerita ini sebaiknya anda baca, karena cocok bagi yang suka kepiting maupun yang tidak suka kepiting termasuk juga cocok bagi yang tak mau makan kepiting……

Tahukah anda cara memancing kepiting? Memancing kepiting sangatlah mudah. Saya pernah memancing kepiting hanya dengan menggunakan kayu dari ranting pohon dan tali. Caranya yaitu mengikatkan tali ke ranting pohon tersebut, dan diujung tali itu saya mengikatkan sebuah batu kecil.

Lalu saya mengayunkan ranting tersebut agar batu diujung tali terayun menuju kepiting yang saya incar, saya mengganggu kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar kepiting itu marah. Kalau itu berhasil maka kepiting itu akan menggigit tali atau batu itu dengan geram. Capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga saya leluasa mengangkat ranting dengan tali berisi seekor kepiting gemuk yang sedang marah.

Kami tinggal mengayun perlahan ranting agar ujung talinya menuju ke sebuah wajan besar yang sudah saya isi dengan air mendidih karena dibawahnya itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala. Kami celupkan kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi memerah, tak lama kemudian saya bisa menikmati kepiting rebus yang sangat lezat. Kepiting itu menjadi korban santapan saya karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang saya lakukan melalui sebatang ranting, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang  jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena: MARAH. Kalau orang sedang dikuasai oleh kemarahan, maka biasanya ia tidak akan dapat berpikir secara jernih. Ia tidak mampu melihat hal-hal yang seharusnya menjadi pertimbangan sebelum ia mengambil tindakan atau keputusan.

Jadi jika anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, agar jangan sampai kita dikuasai oleh kemarahan itu. Lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik nafas panjang, kalau perlu cucilah muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar kemarahan itu menjadi reda dan kita bisa terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan hidup kita.

Just never have negative thinking to anyone…

Ada satu cerita menarik yang menurut saya cukup menggugah hati dan membuat hati terasa sangat miris. Cerita ini saya dapat dari teman saya, karena saya merasa cerita ini menarik makanya saya putuskan untuk diposting ke blog saya ini supaya teman-teman blogger sekalian bisa ikut membacanya.

Begini ceritanya:

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei.

Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.
Baca lebih lanjut

Belajar Berkata “CUKUP”

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata “Cukup”

Sumber dari Email teman